
Lynx bergerak perlahan di antara semak-semak lebat, berusaha tetap tak terlihat. Dengan kekuatannya, ia mampu melihat lebih jauh dan lebih jelas dibandingkan manusia biasa. Dari tempat persembunyiannya, ia memfokuskan pandangannya pada perkampungan perampok yang sangat besar.

Di tengah halaman perkampungan, matanya tertuju pada seorang wanita yang diikat dalam posisi menyilang. Wanita itu terikat tanpa pakaian sehelaipun yang menutupi tubuhnya. Tali-tali kasar mengikat pergelangan tangan dan kakinya, membuat tubuhnya tergantung dengan sudut yang menyakitkan. Wajahnya tertunduk lemah, rambutnya berantakan, dan tubuhnya penuh luka. Lynx mengerutkan kening, merasakan amarah mulai membara dalam dirinya.

Tidak jauh dari wanita itu, beberapa pria dan wanita lainnya juga diikat pada tiang-tiang kayu besar. Mereka tampak lemah, dengan wajah yang mencerminkan keputusasaan. Beberapa dari mereka bahkan tidak bergerak sama sekali, membuat Lynx bertanya-tanya apakah mereka masih hidup.

Saat mengalihkan pandangannya, Lynx melihat sebuah bangunan yang terlihat lebih besar dan lebih bagus dibandingkan pondok lainnya. Dindingnya terbuat dari kayu yang diukir dengan kasar, dan ada dua penjaga berdiri di depannya dengan tombak di tangan. Lynx memperkirakan itu adalah rumah pimpinan mereka, tempat di mana keputusan-keputusan keji kemungkinan besar dibuat.

Lynx mengamati senjata yang digunakan oleh para penjaga di sekitar kamp. Sebagian besar membawa tombak dengan ujung tajam yang tampak terbuat dari tulang hewan. Ada juga yang memegang kapak batu besar, senjata sederhana namun terlihat berat dan mematikan. Beberapa membawa panah dengan anak panah dari tulang, dan mereka tampaknya cukup ahli memanah. Lynx mencatat ini sebagai ancaman yang tidak boleh diremehkan.

Ketika Lynx terus bergerak di sekitar kamp, ia mulai menghitung jumlah musuh. Satu kelompok berjaga di dekat gerbang utama, kelompok lain bergerak mengelilingi perimeter, dan beberapa terlihat di dalam kamp, mengobrol atau makan. Lynx menghela napas dalam-dalam. Jumlah mereka jauh lebih besar dari perkiraan—sekitar dua ratusan orang.

"Ini bukan hanya perampok biasa," pikir Lynx. "Ini adalah pasukan yang terorganisir. Jauh lebih besar dibandingkan suku Raksa atau Uksa. Kalau aku tidak berhati-hati, mereka bisa membantai para tawanan sebelum aku bisa bertindak."

Lynx terus bergerak, memastikan langkahnya tidak menimbulkan suara. Ia melihat sebuah penjara besar yang terbuat dari kayu tebal. Di dalamnya, puluhan pria, wanita, dan anak-anak terlihat duduk dengan lemas. Beberapa di antaranya tampak terluka, sementara yang lain memeluk anak-anak mereka untuk memberikan rasa aman.

Salah satu pria tua dengan luka di wajahnya mencoba berbicara dengan seorang wanita muda, mungkin untuk menenangkannya. Namun, suasana di dalam penjara itu penuh dengan keputusasaan.

Lynx merasakan sesuatu menghancurkan di hatinya. Ia tahu bahwa satu kesalahan kecil dapat menyebabkan mereka semua terbunuh.

Telinga Lynx menangkap suara jeritan memilukan dari salah satu pondok kecil di dekat penjara kayu. Ia memusatkan pendengarannya dan mendengar seorang wanita menangis kesakitan, suaranya serak seperti telah menjerit terlalu lama. Suara tawa kasar dari beberapa pria terdengar bersamaan, menunjukkan bahwa mereka menikmati penyiksaan itu.

"Monster," pikir Lynx dengan rahang mengatup erat.

Namun, ia menahan diri untuk tidak bergerak sembarangan. Amarah yang meletup dalam dirinya harus dikendalikan. Ia tahu, jika ia bertindak gegabah, para tahanan—terutama wanita dan anak-anak—akan berada dalam bahaya besar.

Lynx mengambil posisi di salah satu titik aman untuk memantau seluruh kamp. Ia mengamati pola pergerakan para penjaga, mencoba mengidentifikasi jadwal patroli atau titik lemah di pertahanan mereka.

"Tidak bisa hanya menyerang langsung," Lynx bergumam pelan pada dirinya sendiri. "Aku harus memastikan para tawanan tetap aman. Aku harus masuk ke dalam sana untuk mengetahui lebih banyak keadaan disana."

Malam merambat semakin pekat, membawa dingin yang merayap di antara pepohonan. perkampungan perampok itu masih dipenuhi cahaya dari beberapa obor besar yang terpasang di sepanjang jalanan utama. Lynx, yang telah mengamati sejak siang, akhirnya memutuskan untuk bergerak mendekati perkampungan.

"Bagaimana keadaan tawanan?" terdengar salah satu penjaga bertanya kepada rekannya yang baru datang.

"Mereka sedang diajak berpesta. Pimpinan menghadiahkan tawanan yang di tangkap pagi tadi kepada mereka yang berjasa." Balas penjaga satunya yang baru datang.

"Mereka berpesta, sementara kita harus kedinginan disini." Kata penjaga satunya lagi.

"Kamu akan dikasih hadiah jika bisa memaksa wanita itu mengaku, dimana dia menyembunyikan benda yang diinginkan suku Monrest." Kata penjaga lainnya. "Kalau saja benda itu bukan benda yang diinginkan pemimpin untuk mendapatkan hadiah dari Monrest, pasti sudah bisa kita nikmati wanita itu."

Lynx yang bersembunyi tertarik dengan percakapan mereka, "Benda? Wanita? Benda apa yang mereka maksudkan, dan wanita mana yang mereka sebut. Aku harus menyelidikinya."

Karena tidak ada informasi lain yang bisa didapatkan, dengan kelincahan dan kecepatannya yang luar biasa, ia melompat melewati pagar kayu tinggi yang mengelilingi perkampungan. Tubuhnya mendarat tanpa suara di tanah keras di balik pagar, menyatu dengan bayangan gelap malam.

Lynx bergerak di antara bangunan-bangunan kayu dengan langkah cepat namun hati-hati. Ia memastikan setiap gerakannya tak terdengar, setiap nafasnya tertahan. Penjagaan di luar perkampungan sangat ketat, dengan kelompok penjaga yang terus berkeliling membawa tombak dan obor. Tapi di dalam kamp, suasana berbeda.

Lynx mendengar tawa keras dari beberapa penjaga yang duduk mengelilingi api unggun. Aroma alkohol tercium kuat di udara, dan ia melihat botol-botol besar bergulir di tanah. Para penjaga itu tampak mabuk berat, tertawa terbahak-bahak sambil menumpahkan minuman mereka.

Beberapa wanita dengan wajah letih melayani mereka, membawa makanan atau minuman. Beberapa dari mereka duduk dengan wajah hampa, tampaknya sudah menyerah pada nasib mereka. Lynx mengepalkan tangan, tapi ia tahu sekarang bukan waktu untuk bertindak.

Lynx mengalihkan pandangannya ke arah penjara kayu besar yang ia lihat sebelumnya. Tawanan pria, wanita, dan anak-anak duduk berdesakan di dalam, terkurung oleh jeruji kayu tebal. Beberapa di antara mereka terlihat terluka, yang lain hanya duduk dengan kepala tertunduk, menatap kosong ke tanah.

Lynx merayap mendekat, tapi ia segera menyadari bahwa mendekati penjara itu tidak semudah yang ia pikirkan. Penjaga bersenjata berkeliaran di sekelilingnya, dan meskipun sebagian dari mereka tampak mabuk, mereka masih waspada.

"Ini terlalu ketat," gumam Lynx dalam hati. "Aku harus berhati-hati jika ingin menyelamatkan mereka, tidak boleh gegabah."

Ia melangkah mundur, kembali ke bayangan, mencari cara lain untuk mendekati penjara atau mencari informasi lebih lanjut.

Saat Lynx menyelinap lebih dalam ke dalam kamp, ia berhenti di sebuah pondok kecil yang pintunya sedikit terbuka. Dari dalam terdengar suara seorang pria berbicara dengan nada memerintah, diiringi isakan pelan seorang wanita.

Lynx mengintip melalui celah pintu dan melihat seorang pria bertubuh besar berdiri di tengah ruangan, dengan wanita muda berlutut di depannya. Wajah wanita itu dipenuhi ketakutan, tubuhnya gemetar. Pria itu memegang bahunya dengan kasar, memaksanya untuk tunduk.

"Kau milikku sekarang," kata pria itu dengan nada mengancam.

Wanita itu menangis, tapi tidak melawan. Lynx menahan napas, rahangnya mengatup rapat. Ia tahu wanita itu telah melalui banyak hal. Tubuhnya yang penuh luka dan wajahnya yang lesu menunjukkan bahwa ini bukan pertama kalinya ia mengalami perlakuan seperti ini.

Lynx mengepalkan tinjunya. Ia ingin menyerang pria itu, tapi ia tahu bahwa tindakan impulsif seperti itu akan membahayakan semua orang di kamp, terutama para tahanan.

"Maafkan aku," bisik Lynx dalam hati. Ia menutup matanya sejenak, mencoba menekan amarahnya, lalu berbalik dan bergerak menjauh dari pondok itu.

Lynx menuju bangunan besar yang ia perkirakan sebagai tempat tinggal pimpinan perampok. Penjagaan di sana jauh lebih ketat. Dua penjaga berdiri di depan pintu masuk, membawa tombak besar, sementara dua lainnya berjalan mondar-mandir di sekitar area itu.

Lynx mencoba mencari celah untuk mendekat, tapi setiap langkahnya dihalangi oleh patroli yang sangat disiplin. Ia terpaksa bersembunyi di balik sebuah tumpukan kayu yang tak jauh dari bangunan itu, mengamati dengan cermat pola pergerakan penjaga.
